Bi Unah, Pembantu Ketigaku
www.metrobola.com .sayapoker.com agen bola
.www.inulpoker.com
.www.abcbola.com
www.jinpoker.com
sentabet.com .Judi Casino dan Togel Online Indonesia
.4playsports.com www.fansbetting.com
.www.sahabatdomino.com
agen bola
star88.net .BursaBet.com
www.9ikanbet.com www.9ikanpoker.com
. www.itcbet.com
.www.sports188.com
vicabet.com
www.pokervovo.com .bandar bola
.www.klubjudi.com
.agen poker online
.
.bandar bola
www.pokerkiukiu.com
.bandar bola
.www.terminalbet.com www.tokopoker.com
www.pokerbet88.com www.betlive88.com
agen judi agen judi
www.bola54.com
Results 1 to 7 of 7

Thread: Bi Unah, Pembantu Ketigaku

  1. #1
    Banci Tua thealvino's Avatar
    Bergabung
    Dec 2011
    Lokasi
    Sumatra
    Posts
    1,619

    Bi Unah, Pembantu Ketigaku

    togel online

    poker uang asli

    Supaya Sobat pembaca mengetahui pengalamanku selengkapnya, baiknya simak juga; “Bi Encum, Pembantu Pertamaku” dan “Bi Nunung, pembantu Keduaku.” Selamat membaca Sobat.

    Di Jakarta, aku betul-betul nggak ngapa-ngapain Bi Nunung walaupun mungkin kalau kuajak begituan, dia akan mau. Tapi memang aku hanya berani coli didepannya saja, untuk lebih dari itu aku takut Bi Nunung kelepasan ngomong ke Ibuku.

    Hampir satu setengah tahun Bi Nunung kerja, dia minta berhenti mau pulang kampung. Ibuku sempat menahannya supaya jangan pulang karena kerjanya memang bagus dan orangnya baik. Dan akhirnya karena nggak bisa ditahan-tahan lagi, Bi Nunung pulang kampung tapi setelah pengganti Bi Nunung datang dari kampung Ibuku.

    Pengganti Bi Nunung ini ternyata seorang perempuan separuh baya, umurnya sekitar empat puluh lima atau lima puluh tahunan. Tingginya biasa saja, susunya pun sudah agak kempes seperti umumnya Ibu-ibu, kulitnya agak gelap, namanya Bi Unah. Terus-terang awalnya aku nggak terlalu suka melihat Bi Unah karena cerewet, jadi takut dia ngomong kemana-mana kalau aku kasih pertunjukan telenji atau coli. Tapi malah selanjutnya menurutku Bi Unah ini cukup bisa memegang rahasia.

    Siang itu saat aku rebahan di rumah, pulang kuliah, terasa pejuku sudah penuh di dalam kantung semarku, rasa ingin coliku betul-betul memuncak. Aku ingin coli banget tapi mau yang lain sedikit suasananya. Nah, di depan kamarku yang pintunya tertutup, terdengar suara Bi Unah menyetrika baju.

    Pengalamanku meniduri Bi Encum bertahun-tahun lalu, aksi-aksi coliku di depan mata Bi Nunung, dan pengalamanku beberapa kali ML dengan Bi Imah waktu liburan SMA dulu, betul-betul telah membuatku lebih dewasa serta berpengalaman dalam memahami keinginan perempuan yang lebih tua dariku. Rasa takut menghadapi mereka pun pudar karena kusadari bahwa mereka, apalagi yang hidup sendiri pun memiliki keinginan atau napsu yang sama seperti kita. Malah kalau kita bisa memanfaatkan suasana seperti pura-pura lugu, mereka akan memberikan lebih dari yang kita inginkan. Dan tipsnya, tetep menganggap mereka sebagai orang yang lebih tua dari kita dalam artian kesopanan serta menjaga harga diri mereka. Pemahaman itu pulalah mendorongku berani atau nekat melakukan aksi-aksi selanjutnya.

    Ah, bodo deh, pikirku siang itu, yang penting keluar nih, peju. Secepat kilat, kubuka seluruh bajuku hingga telanjang. Dari lemari, kuambil selembar handuk kecil yang biasa kupakai untuk melap keringat saat olahraga. Saat kucoba melingkari pinggangku, handuk kecil itu memang dapat menutup ketat tongkolku, menonjol, tapi buah pantatku kelihatan sebagian. Nekat, kubuka pintu kamarku dengan mimik muka pura-pura sakit. Bi Unah melongo melihat tubuhku yang hanya dibalut handuk kecil dengan satu tangan menahan kedua ujungnya agar tidak melorot. Tongkolku yang baru bangun, agak menonjol.

    “Bi, Rudi pusing nih,” kataku lirih kepada Bi Unah. “Masuk angin kali nih, Bi. Tolong kerokin Rudi dong, Bi,” sambungku lagi sambil sebelah tangan mengurut-urut jidatku yang nggak pusing.
    “Oh, mau diambilin obat nggak, A?” tanya Bi Unah sambil melepaskan colokan listrik setrikaan.
    “Nggak usah, Bi,” jawabku pelan. “Tolong dikerokin aja, deh,” sambungku lagi.

    Seperti mau beranjak ke bawah, Bi Unah bilang, “Sebentar Bibi ambil balsem, A.”
    “Eh, nggak usah Bi,” tukasku cepat takut Bi Unah bener-bener turun ke bawah. “Ini pake minyak ini aja,” balasku sambil mengambil baby oil yang biasa kupakai untuk coli.
    “Ya, udah. Dimana, A?” tanya Bi Unah lagi sambil melangkah ke arahku.
    “Sini di kamar aja, Bi’” jawabku sambil masuk ke dalam dan membiarkan Bi Unah masuk, lalu kurapatkan pintu kamarku.

    Aku lalu duduk di lantai kamarku. Bukannya apa-apa, kalau di atas kasur, tadinya aku nggak mau nanti Bi Unah ikutan naik ke kasurku. Awalnya aku agak geli sih, sama dia. Tapi selanjutnya sih, nggak. Aku duduk sambil membungkukkan badanku. Kedua dengkul kutekuk ke atas, di depan perutku, dan kedua tanganku bertumpu di atasnya sehingga tongkolku terbebas karena handuk kecil sudah melorot turun, tapi masih menutupi tongkolku.

    Bi Unah duduk di belakang punggungku dan mulai mengolesi baby oil ke bagian punggungku yang mau dikerok, lalu dia mengerok punggungku. Sebentar kemudian, “Merah nggak, Bi?” tanyaku sambil meringis kesakitan.

    “Nggak terlalu merah, A” jawabnya. Ya iyalah, wong aku sehat dan cuma pura-pura masuk angin saja, kok?
    “Ya udah, nggak usah dikerok, Bi. Tolong diurut aja badannya,” balasku pelan.

    Bi Unah lalu membaluri seluruh punggungku dengan baby oil. Dari arah leher dia urut pelan-pelan tapi cukup bertenaga. Lumayan enak juga pijatannya. Di urut-urut kudukku begitu, tongkolku makin bangun. Lupa kalau yang mengurut itu Ibu-ibu. Hihi.. Pas sampai di pinggang, aku makin menunduk sambil kuturunkan kedua dengkulku, bersila. Toeng! Tongkolku yang tegang dibawah perut tapi masih tertutup handuk kecil, melenting.

    Hmm, enak banget terasa pinggangku dipijat Bi Unah. Tangannya memijat-mijat, meremas-remas, terkadang turun-naik di sekujur punggungku. Ser-ser gitu rasanya darah mengalir di seluruh tubuhku. Tongkolku yang sedari tadi mengeras harusnya sih, udah diketahui sama Bi Unah, tapi kayaknya dia cuek aja. Nggak lama aku minta tanganku di urut juga. Kugeser pantatku, bersila tegak menyampingi Bi Unah. Toeng! Handuk kecil terlepas, tongkolku mengacung ke atas di bawah perut. Aku pura-pura cuek. Sejenak Bi Unah terdiam, lalu mulai mengurut tangan kiriku. Terdengar napas Bi Unah mulai turun-naik, antara capek mengurutku atau mungkin karena melihat tongkolku ngaceng. Nggak tau, deh. Dadaku berdebar keras sejak tadi. Bi Unah terus mengurut, matanya terasa menghunjam tongkolku, namun aku pura-pura meringis saja.

    Terasa cukup, aku bergeser berbalik sehingga kini tangan kananku yang berganti di hadapannya. Tongkolku berayun-ayun. Momen itu kumanfaatkan untuk melepas handuk keci dari selangkanganku yang terbuka. Toeng! Toeng! Tongkolku terus berayun-ayun. Kini aku duduk tegak bersila, telanjang bulat, menyampinginya lagi. Ah, sebentar, “Bi, tolong elap dulu keringat Rudi, Bi,” kataku sambil memberikan handuk kecil kepadanya.

    Bi Unah sempat terdiam, matanya menatap ke arah mataku, tapi aku tak mau membalas tatapannya. Sejenak, diambilnya juga handuk yang kuserahkan itu. Lalu sambil bertumpu dengan kedua dengkulnya dan sebelah tangan memegang pundakku, di elapnya dengan telaten serta perlahan seluruh punggungku. Kedua tanganku, ketiakku, dadaku, lalu perutku. Saat di perut, terdengar helaan napasnya. Aku pura-pura memejamkan mata.

    Setelah itu, “Tolong urut tangan sini dong, Bi,” pintaku perlahan sambil mengasongkan tangan kananku. Bi Unah lalu beringsut ke samping dan mengambil baby oil, lalu diurutnya tanganku perlahan. Gerakannya mulai tak teratur. Hihi, kutahu matanya pasti sambil memandangi tongkolku yang mengacung.

    Sambil terpejam, pura-pura meringis sambil berdebar, aku terus memikirkan aksiku selanjutnya. Ah, ini dia! Selesai tangan, aku beringsut menghadap Bi Unah. Sebelah kaki kunaikkan sedikit dan kuletakkan disamping Bi Unah, lalu kuluruskan kakiku itu. Sekarang posisinya seru banget. Aku duduk mengangkang, kedua kakiku disamping kiri-kanan Bi Unah, jadi dia duduk diantara kedua kakiku. Hihi.. Tak lupa kedua tangan kuluruskan ke belakang pinggangku.

    Muka kulempar kesamping supaya Bi Unah nggak malu. Dadaku makin berdebar, napasku mulai terasa berat. “Sekarang depannya dong, Bi,” kataku lirih. Sejenak Bi Unah terdiam lagi, tapi lalu diambilnya baby oil, dioleskannya ke dadaku. Karena terasa Bi Unah agak jauh duduknya, aku majukan pantatku hingga dengkulnya menyentuh pangkal dalam pahaku. Mukaku masih kupalingkan.

    Kedua tangan Bi Unah mulai memijiti dadaku, perlahan. Tongkolku makin keras mengacung di bawah. Kulirik ke bawah, bulu jembiku yang lebat seperti sarang burung melingkari tongkolku yang ujungnya berkilat. Aku sesekali pura-pura meringis, dan sesekali juga terdengar nafas Bi Unah, berat.

    Sebentar kemudian, tangan Bi Unah turun ke perutku, mukanya agak menunduk ke bawah. Napas beratnya berhembus didadaku. Heehhh.., heeh.. Aku makin bernapsu mendengarnya, napasku pun makin berat. Tangan Bi Unah bergerak naik-turun tak teratur di perut serta pinggangku. Mukanya menghadap tongkolku.

    Setelah beberapa lama begitu, kutekuk kedua tanganku ke belakang hingga posisiku kini seperti hampir telentang tapi masih ditopang oleh kedua sikuku. Kedua tangan Bi Unah masih bergerak turun-naik di perutku. Seer, ujung tongkolku menyentuh lengannya. Bi Unah seolah reflek mau memajukan tubuhnya, dan aku menangkap gerakan kecil tadi. Sekejap, kutekuk kedua dengkulku ke atas, lalu kumajukan pantatku sehingga bagian bawah pangkal paha serta buah salakku menyentuh ujung dengkulnya. Uh, asik, deh. Jantungku makin berdetak keras.

    Bi Unah terus memijiti perut dan pinggangku bergantian. Gerakannya makin tak teratur. Tongkolku mengarah ke atas di depan mukanya. Sesekali napasnya berhembus keras ditongkolku. Kudiamkan saja, lama begitu.

    Kami tetap saling tak bicara, tapi sesekali perasaanku berkata bahwa matanya berusaha menatap mataku. Namun aku nggak mau membalas tatapannya, mukaku tetap kesamping, pura-pura meringis. Beberapa kali tangan Bi Unah menyentuh jembiku, tongkolku. Lalu tanpa kusuruh, tangan Bi Unah mulai turun ke pangkal pahaku, diurut-urutnya terus di situ. Sesekali jarinya menyentuh biji salakku. Kudiamkan saja.

    Ah, kayaknya makin bernapsu dan sengaja nih, Bi Unah, pikirku. Aku lalu nekat meraih pelan sebelah tangan Bi Unah dan membimbingnya ke tongkolku. Tak ada penolakan darinya. Sentuhan pertama tangannya yang berminyak ke tongkolku membuat pantatku agak naik sekejap. Seer! Lalu di elus-elusnya tongkolku. Emmh, nikmaat sekali.. Tadinya masih dengan sebelah tangan, kini dengan kedua belah tangannya. Sesekali sebelah tangannya meremas pelan buah salakku. Dengan jam terbangnya yang tinggi, pasti dia tau kalau di bagian itu sudah bulat penuh terisi peju yang siap dimuntahkan.

    Duuuh! Seeer.., seer.. Darah mengalir deras di tongkol serta buah salakku. Nikmaat banget pijatan lembut Bi Unah walau terasa agak kasar kulit tangannya. Sesekali ditambahkannya baby oil. Saat di ujung tongkolku, tangannya sengaja memuntir-muntir lembut. Emmh.., aku agak melenguh pelan. Gerakan tadi membuat aku nggak tahan, tapi sepertinya dia tau. Melihat aku mulai begitu, diturunkannya tangannya, lalu dikocoknya perlahan batang tongkolku, turun-naik. Agak lama begitu. Sebelah tangannya bergantian meremas dan memijit perlahan buah salakku. Duuh.., seer.., seer, darah di kedua bagian itu terasa makin mengumpul.

    “Uuuh..!” Aku makin melenguh, Bi Unah makin aktif. Sekitar lima menit dibegitukan, aku semakin nggak tahan. Pejuku memaksa ingin keluar. Sedikit berkejat aku melenguh, “Adduuh, Bi..”

    Melihatku begitu, Bi Unah bukannya melambatkan gerakan tangannya, tapi malah mempercepat. Dikocok-kocokkannya tongkolku dengan kedua tangannya, turun-naik, makin cepat. Sekejap, cruut! Cruut! Pejuku muncrat terbang bebas ke udara dan hampir saja mengenai muka Bi Unah kalau dia tidak buru-buru mengeles ke belakang. Aaah..! Aku berkejat hebat. Sebelah tangan Bi Unah memegang pahaku dan sebelah tangan lagi masih aktif turun-naik di tongkolku, mengeluarkan sisa-sisa peju perjuangan yang kini melelehi tangannya. Aku kegelian, “Udah, Bi.,” kataku serak sambil menahan gerakan tangannya.

    Sejenak Bi Unah meremas tongkolku dalam genggamannya. Setetes sisa peju masih keluar perlahan. Aku tergolek lemas di lantai yang licin bercampur baby oil serta keringatku, mataku terpejam. Tak lama, terasa Bi Unah mengelap seluruh peju yang membasahi tongkolku, buah salakku, jembiku, juga yang berceceran di lantai kamar. Ah, memang lain kalau jam terbangnya tinggi.

    Sebentar kemudian, terdengar lantai kamarku berderit. Bi Unah melangkah ke pintu, membukanya perlahan, lalu menutupnya kembali. Tak lama suara siraman air terdengar dari kamar mandi dekat kamarku. Aku beranjak bangun, handuk kecilku tak terlihat di lantai, mungkin dibawa Bi Unah ke kamar mandi. Kukenakan celana pendek serta kausku, tanpa CD. Lalu kuloncat ke ranjang, tidur. Diluar, suara colokan listrik setrikaan terdengar. Bi Unah mulai menyetrika baju lagi.

    Kejadian aku dicolin oleh Bi Unah terjadi beberapa kali selama hampir setahun Bi Unah bekerja di rumah kami. Dan selanjutnya memang tidak perlu aku pura-pura lagi. Cukup bilang, “Tolong dong, Bi..” Bi Unah sudah mengerti. Memang sempat aku takut Bi Unah yang cerewet itu ngobral omongan kemana-mana, tapi ternyata nggak, tuh. Rahasiaku masih tertutup rapih hingga kuketik naskah ini. Duh, apa kabarnya ya, si Bi Unah?

    Hmm, aku ingat, setelah kejadian di lantai kamar itu. Coli dilakukan di ranjang kasurku. Sempat terbersit keinginan untuk membalas kebaikannya dengan mencolikan dirinya juga, tapi setiap kali kupegang pahanya, Bi Unah selalu menolak. Aku sempat memaksa, tapi dia malah agak mengancam nggak mau mencolikan aku lagi kalau begitu. Ya sudah, aku juga nggak apa-apa. Sesekali sih, kuberikan sebagian jatah jajanku kepadanya. Pernah dengan berbohong kumintakan uang ke Ayahku untuk membeli buku alasannya, tapi selanjutnya kuberikan kepada Bi Unah.

    O, iya, sekali pernah sebelum dicolikan oleh Bi Unah, kuminta Bi Unah mencukurkan dulu bulu jembiku. Tadinya dia sempat nggak mau, tapi setelah aku contohkan dengan sebelumnya mengoleskan foam cukur di sekujur jembiku, malah selanjutnya Bi Unah terkikik kegelian mencukuri jembiku sampai botak. Tangan kanannya memegang silet cukur, tangan kirinya menarik-narik tongkolku hingga mengeras. Selanjutnya ia mencolikan tongkolku sambil sesekali menghisap-hisapnya. Heeh.., pengalaman yang cukup lekat di otakku.

    Lama-lama pegal juga nih, tangan serta otakku memeras dan menggali memori yang terdalam. Jadi sobat, kupikir sampai disini dulu kuberbagi beberapa pengalamanku, ya. Di lain kesempatan akan kucoba tuangkan pengalaman-pengalamanku lainnya dengan sepupu Ibuku, pacarku, serta dengan beberapa orang kawan pacarku. Sampai ketemu lagi. Bye..
  2. # ADS
    Circuit advertisement
    Bergabung
    Always
    Lokasi
    Advertising world
    Posts
    Many
    BursaBet
     

  3. #2
    mantep knp gak dexe aja gan?
  4. #3
    Korban Banci
    Bergabung
    Oct 2012
    Lokasi
    Indonesia
    Posts
    84
    mantap juga cerita ente gan....
  5. #4
    Setengah Banci joseph ivan's Avatar
    Bergabung
    Jan 2013
    Lokasi
    Cariu, kabupaten Bogor
    Posts
    482
    lain kali dicoba lagi bro ....
  6. #5
    Korban Banci
    Bergabung
    Feb 2012
    Lokasi
    surabaya
    Posts
    57
    ayo b ayo buruan pegalaman lainnya ditulissss
  7. #6
    woew...... keren,,,,, lanjut bro....

Tags for this Thread

tokepoker.com   Bandar Bola Online   www.zonajudi.com
www.Q8bola.com

doyanpoker.com

jinpoker.com
www.bintangbola.com

arwanapoker.com

jeeppoker.com